15 April 2013
Membangun Desa Dengan Data

Ketika banyak desa telah menggunakan software ini, hal yang perlu diperhatikan adalah p...

08 April 2013
Pelatihan Sistem Administrasi Dan Informasi Desa Lombok Tengah

Pengelolaan informasi dengan peliatan komunitas merupakan ...

01 April 2013
Produk desa

Bukan hanya hasil bumi yang selalu menjadi sorotan dunia i...

01 April 2013
Potensi Desa

Media untuk menyampaikan potensi yang dimiliki oleh desa. bisa melihat dari sektor pert...

Pengelolaan informasi dengan peliatan komunitas merupakan salah satu kunci pembangunan menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Ketika pengelolaan informasi sudah baik, maka perwujudan perencanaan pembangunan akan berkesinambungan dan berkelanjutan (sustainable) karena informasi ataupun data yang terkelola dengan baik akan dapat digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas Access Phase II dengan Mitranya yaitu COMBINE resource Institution dalam perjalanan kegiatannya banyak melakukan penguatan kafasitas masyarakat marjinal melalui jaringan informasi (Community based information network) melakukan Assistance untuk pemerintah desa dan Fasilitator lokal untuk penguatan SID/SAID di Kabupaten Lombok Tengah di Hotel Santika Mataram, pada tanggal 8-9 April 2013.

Penguatan kafasitas yang diikuti oleh 30 orang Staf Desa dan fasilitator lokal 15 Desa dari 25 Desa Dampingan Access yang di bawah dampingan 4 Lembaga OMS dilombok tengah sebagai Pilot Projeck serta 4 orang pendampin dari masing-masing lembaga (Berugak Dese, Assppuk, AMB dan Somasi)

Tidak dipungkiri bahwa sumber kegagalan pembangunan berawal dari carut marutnya ketersediaan data. Kecarut marutan pengelolaan data yang menjadi benang kusut dalam menentukan sikap arah pembangunan dan juga menyebabkan ketidak tepatan sasaran arah pembangunan. Beberapa permasalah data dapat disebabkan oleh banyak hal yaitu mekanisme pengumpulan data yang dilakukan SKPD seringnya tidak terpusat dan konsisten. Selain itu belum ada format baku dalam pelaporan disetiap SKPD yang sesuai dengan kebutuhan data, sehingga munculnya data yang tumpang tindih. Serta disisi non teknis, permasalahan komitmen SKPD dalam penglolaan data yang masih kurang.

Pengelolaan informasi dengan pelibatan komunitas merupakan salah satu kunci pembangunan menuju tata kelola pemerintahan yang baik. Ketika pengelolaan informasi sudah membaik maka perwujudan perencanaan pembangunan akan berkesinambungan dan berkelanjutan, karena informasi ataupun data yang terkelola dengan baikakan dapat digunakan dengan sebagai acuan perencanaan pembangunan.

Sistem Informasi Desa pertama kali dibangun tahun 2009 dan diterapkan di desa Terong, Bantul Yogyakarta. Dalam perjalanannya, SID ini tidak hanya menyediakan pelayanan pemerintah kepada masyarakatnya, namun juga sebagai agen perubahan ditingkat masyarakat. Pengembangan sistem informasi ini memberikan dampak sangat positif dalam menghadapi permasalahan tumpang tindih data serta keakuratan data.

Adapaun tujuan utama dari penguatan kapasitas ini adalah : 1. Membangun Data Base penduduk tetap desa yang lengkap diwilayahnya, 2. Memberi penguatan aparat desa, warga dan kelompok warga desa dalam melakukan analisis pembangunan berdasarkan database yang dimiliki, 3. Membuka ruang partisipatif warga dan kelompok warga dalam proses pembangunan yang berlangsung diwilayahnya dan 4. Terbangunnya sistim yang mempermudah pemerintah desa melakukan layanan publik yang prima kepada warga berupa layanan publik. (Tim Combine)

Membangun Desa Dengan Data

Ketika banyak desa telah menggunakan software ini, hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan yang sesungguhnya untuk mengelola data menjadi informasi yang langsung tersaji dan bisa dimanfaatkan oleh penduduk desa.

Desa seperti sebuah negara kecil yang otonominya dikepalai oleh kepala desa.

  1. Data dibutuhkan untuk melihat perbandingan skill penduduk yang ada di desa dengan basis pekerjaan
  2. Untuk informasi kebutuhan data sederhana seperti golongan darah, apabila ada penduduk yang membutuhkan transfusi darah
  3. Untuk pelaporan kewilayah diatas desa, misal kecamaan atau musrembang
  4. Untuk melihat kebutuhan yang ada pada desa, apabila hanya ada beberapa orang yang memiliki kemampuan tertentu.
  5. Dibidang kesehatan, ada berapa dokter yang ada di desa sebagai pelayan kesehatan publik
  6. Dalam bidang pembangunan, ada berapa orang didesa yang bekerja sebagai tukang batu
  7. Dalam bidang ketahanan pangan ada berapa penduduk desa yang bekerja dibidang pertanian, perikanan, perkebunan
  8. Mengetahui penduduk rentan yang membutuhkan peran siaga dari semua pihak (penduduk hamil, anak kecil, penduduk difable dll)
  9. Mengetahui sketsa pendidikan individu apakah desa butuh pelatihan khusus untuk menjadi cerdas dan berdaya
  10. Membangun kepercayaan dengan pelayanan publik yang dilakukan desa kepada masyarakat, dalam mengurus surat-menyurat.
  11. Transparansi keuangan untuk desa, dokumentasi dan report data yang selalu tertangkap dalam sistem
  12. Sebagai pemantau keamanan dari penduduk yang melakukan pekerjaan maupun perjalanan keluar desa.


Butuh keterlibatan semua warga dalam memanfaatkan data ini, hal yang ingin kami tekankan adalah realitas dari fleksibilitas software untuk menangkap dinamisasi dari data penduduk yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Software ini dapat menembus hal yang selama ini belum bisa direalisasikan pemerintah tentang data.
Pemerintah mendapatkan data bukan dari data yang nyata, mereka mendapat data dari badan survey yang selalu memberi masalah pada desa. Adalah data yang dibuat dari pengumpulan data bukan parsitipatif dari warga, namun hanya membuat parameter sendiri dari beberapa sampel contoh beberapa desa. Inipun dilakukan dalam rentang waktu tertentu, sedangkan data yang ada pada desa telah berubah. Berpindah dari tempatnya semula. Inilah yang telah melatarbelakangi tidak tepatnya sasaran semua program dari pemerintah untuk masyarakat desa.

Banyak desa terombang ambing karena perbedaan data, data yang mereka punyai dan serahkan ke bps atau kelembaga pemerintah yang lain cenderung lebih sering ditolak, karena ada perbedaan data.  memang karena hal inilah mereka sering mengeluh tentang data.

SID Menggampangkan penyediaan data yang belum pernah terpecahkan dalam ruang lingkup paling bawah. Data penduduk lahir hingga penduduk mati, penduduk pendatang yang ada didesa hingga proses perubahan paling kecil.

Adalah sebuah alat yang membutuhkan keterampilan dari penggunanya. Alat ini seperti pisau yang mempunyai dua mata. Jika tidak berhati-hati dalam menggunakannya dapat melukai pemakainya.

 

Pengelolaan informasi dengan peliatan komunitas merupakan salah satu kunci pembangunan menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Ketika pengelolaan informasi sudah baik, maka perwujudan perencanaan pembangunan akan berkesinambungan dan berkelanjutan (sustainable) karena informasi ataupun data yang terkelola dengan baik akan dapat digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas Access Phase II dengan Mitranya yaitu COMBINE resource Institution dalam perjalanan kegiatannya banyak melakukan penguatan kafasitas masyarakat marjinal melalui jaringan informasi (Community based information network) melakukan Assistance untuk pemerintah desa dan Fasilitator lokal untuk penguatan SID/SAID di Kabupaten Lombok Tengah di Hotel Santika Mataram, pada tanggal 8-9 April 2013.

Penguatan kafasitas yang diikuti oleh 30 orang Staf Desa dan fasilitator lokal 15 Desa dari 25 Desa Dampingan Access yang di bawah dampingan 4 Lembaga OMS dilombok tengah sebagai Pilot Projeck serta 4 orang pendampin dari masing-masing lembaga (Berugak Dese, Assppuk, AMB dan Somasi)

Tidak dipungkiri bahwa sumber kegagalan pembangunan berawal dari carut marutnya ketersediaan data. Kecarut marutan pengelolaan data yang menjadi benang kusut dalam menentukan sikap arah pembangunan dan juga menyebabkan ketidak tepatan sasaran arah pembangunan. Beberapa permasalah data dapat disebabkan oleh banyak hal yaitu mekanisme pengumpulan data yang dilakukan SKPD seringnya tidak terpusat dan konsisten. Selain itu belum ada format baku dalam pelaporan disetiap SKPD yang sesuai dengan kebutuhan data, sehingga munculnya data yang tumpang tindih. Serta disisi non teknis, permasalahan komitmen SKPD dalam penglolaan data yang masih kurang.

Pengelolaan informasi dengan pelibatan komunitas merupakan salah satu kunci pembangunan menuju tata kelola pemerintahan yang baik. Ketika pengelolaan informasi sudah membaik maka perwujudan perencanaan pembangunan akan berkesinambungan dan berkelanjutan, karena informasi ataupun data yang terkelola dengan baikakan dapat digunakan dengan sebagai acuan perencanaan pembangunan.

Sistem Informasi Desa pertama kali dibangun tahun 2009 dan diterapkan di desa Terong, Bantul Yogyakarta. Dalam perjalanannya, SID ini tidak hanya menyediakan pelayanan pemerintah kepada masyarakatnya, namun juga sebagai agen perubahan ditingkat masyarakat. Pengembangan sistem informasi ini memberikan dampak sangat positif dalam menghadapi permasalahan tumpang tindih data serta keakuratan data.

Adapaun tujuan utama dari penguatan kapasitas ini adalah : 1. Membangun Data Base penduduk tetap desa yang lengkap diwilayahnya, 2. Memberi penguatan aparat desa, warga dan kelompok warga desa dalam melakukan analisis pembangunan berdasarkan database yang dimiliki, 3. Membuka ruang partisipatif warga dan kelompok warga dalam proses pembangunan yang berlangsung diwilayahnya dan 4. Terbangunnya sistim yang mempermudah pemerintah desa melakukan layanan publik yang prima kepada warga berupa layanan publik. (Tim Combine)

Produk desa

Bukan hanya hasil bumi yang selalu menjadi sorotan dunia internasional, sebenarnya selain itu budaya yang kita punya pun tidak kalah bagusnya untuk ditunjukkan ke kancah internasional.
Songket, tenun, batik, ukir dan lain-lain. semua itu adalah kekayaan indonesia dari kearifan lokal yang ditinggalkan nnek moyang kita. dan melalui media website, hal ini dapat kita tampilkan melalui sebuah etalase yang sederhana.hasil kerajinan berkualitas tinggi yang memiliki daya tarik, tidak selalu berimbas negatif dengan menyerahkan tanah air dan tambang kita. lebih baik mengamankan mereka dengan memperkokoh lagi kearifan lokal, sehingga terjaga kelestarian budaya bangsa.

Potensi Desa

Media untuk menyampaikan potensi yang dimiliki oleh desa. bisa melihat dari sektor pertanian dan perikanan sebagai sentra ekonomi masyarakat. dll

Misal Kegiatan budidaya yang ada di dalamnya yang menjadi potensi namun kurang mendapat sorotan oleh pemerintah, ini dapat digunakan sebagai sarana advokasi untuk memperlihatkan kepada pemerintah untuk segera memberikan sarana penunjang kepada masyarakat.

atau dapat pula potensi antar desa yang berjejaring dapat memberi sumbangsih kelebihannya pada desa lain. contoh, ketika satu desa berhasil dengan metode budidaya tertentu, dapat menularkan pengetahuannya ke desa lain. apabila ada kebutuhan desa satu yang menjadi kelebihan desa lain dapat saling bertukar potensi.